Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Desember 2008

BHP : Upaya Pembungkaman Mahasiswa

Hampir di setiap kota-kota besar, di depan kantor DPRD maupun di depan gedung-gedung rektorat universitas akhir-akhir ini selalu dihiasi oleh demonstrasi dari para mahasiswa. Demostrasi tersebut dilakukan sebagai upaya penolakan atas Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan ( UU BHP) yang telah ditetapkan pemerintah sejak 19 Desember lalu.
Pemerintah melalui Mr. Bambang Sudibyo mengatakan bahwa UU BHP tersebut di buat untuk memudahkan rakyat miskin agar bisa menikmati perguruan tinggi. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa pemerintah memberikan bantuan 20% beasiswa pada rakyat miskin agar bisa masuk kuliah. Memangnya, penduduk miskin kita yang hendak berkuliah hanya sebesar 20% dari berjuta-berjuta rakyat?? Ia kembali menegaskan bahwa semua infrastruktur kampus di tanggung oleh pemerintah. Bukankah ini berarti bahwa pemerintah hanya mengurusi bangunan kampus saja dan tidak peduli bila biaya kuliah menjadi mahal karena pemerintah tidak lagi memberi subsidi pada kampus-kampus negeri maupun swasta yang banyak ini. Berita terbaru yang saya terima, kemungkinan 40% perguruan tinggi akan pailit karena adanya UU BHP.
Sebagai catatan, menurt Komisi Nasional Perlindungan Anak tahun 2007 silam, sebanyak 33,9 juta anak Indonesia dilanggar hak pendidikannya, 11 juta anak usia 7-8 tahun buta huruf dan sama sekali belum pernah mengecap bangku sekolah dan sisasnya putus sekolah di tengah jalan. Bila dilihat lebih detail, ada 4.370.492 anak putus sekolah dasar dan 18.296.332 anak putus sekolah tingkat pertama. Adapun 11 juta sisanya ( lebih dari 30%) anak buta huruf karena tidak pernah bersekolah. Bahkan, hanya 70,85% masyarakat miskin di Indonesia yang bisa mendapatkan akses pendidikan sampai pada jenjang pendidikan menengah saja, sementara kelompok kaya mencapai 94,58%. (Data diambil dari tulisan Emile A. Laggut, edisi Kompas, Jumat 26 Desember 2008). Lalu, kenapa pemerintah hanya memberikan bantuan sebesar 20% saja??? Kenapa pak Dibyo???
UU tersebut juga akan berdampak lain kepada mahasiswa yang kini bukan hanya berstatus sebagai pelajar saja, melainkan juga mempunyai status menjadi penggerak revolusioner bagi bangsa ini. Saya menilai, UU yang akan membuat biaya kuliah menjadi sangat mahal tersebut akan mengakibatkan mahasiswa terkonsentrasi penuh pada kuliah dan tidak lagi akan ikut mencampuri urusan pemerintah yang sampai saat ini masih belum pro terhadap rakyat. Bagaimana tidak, mahasiswa juga mempunyai tanggung jawab terhadap orang tua mereka sebagai orang yang membiayai segala kebutuhan pada waktu kuliah. Teorinya, daripada semakin membebankan orang tua, maka haruslah cepat lulus dari sebuah universitas. Untuk lulus dengan cepat, diperlukan kerja keras dan belajar terus menerus. Hal ini akan mengakibatkan mahasiswa akan terkonsentrasi penuh terhadap kuliah, dan lama kelamaan tidak akan ikut campur dalam setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Hal ini juga diterapkan di Negara tetangga, Malaysia.
Ada beberapa alasan mengapa saya mengatakan hal tersebut. Pertama, dalam beberapa dekade terakhir, keputusan-keputusan pemerintah yang tidak pro rakyat selalu mendapat perlawanan dari mahasiswa melalui Lembaga pers mahasiswa, tulisan di pers umum maupun secara demonstrasi. Seperti yang terjadi pada tahun 1966 dan tahun 1998 ketika para mahasiswa berhasil meruntuhkan rezim yang berlaku pada masa itu.
Kedua, mahasiswa adalah kaum intelektual yang paling dekat dengan rakyat pada saat ini, karena pada dasarnya mereka adalah bagian dari rakyat itu sendiri. Mereka merasakan betul kondisi rakyat dibanding para wakil-wakil rakyat di parlemen maupun presiden yang terlihat sok tahu akan keadaan dan kemauan rakyat.
Ketiga, mahasiswa adalah orang-orang yang berfikiran kritis dan mempunyai ide-ide pembaharuan yang dapat mengubah konsep dan sistem pemerintahan.
Dengan pertimbangan itulah, pemerintah berniat membungkam pikiran dan hati mahasiswa melalui UU BHP agar mahasiswa tidak lagi mencampuri urusan politik dalam negeri dan lebih terkonsntrasi pada kuliah. Karena bila tidak dibungkam, yang ditakutkan adalah ketika tiba waktunya mahasiswa-mahasiswa tersebut akan kembali bersatu dan akan kembali meruntuhkan sebuah rezim dengan konsep dan sistem yang telah disusun sedemikian rupa yang katanya untuk kepentingan rakyat.
Entah dinilai provokasi atau tidak, tapi inilah yang akan terjadi bila UU BHP yang telah di sahkan tersebut dijalankan birokrat kampus. Sudah saatnya kita bersama-sama mematuhi amanat dari pejuang-pejuang pendidikan yang dijadikan pedoman dalam pembuatan UU No.20 Tahun 2003 yang mengatur prinsip-prinsip penyelenggaraan pendidikan nasional yang demokratis, berkeadilan, manusiawi, tidak diskriminatif, serta menjunjung tinggi HAM dan nilai-nilai kultural.

Minggu, 07 Desember 2008

DAYA MAGIS PEMILU BAGI ELITE POLITIK

DAYA MAGIS PEMILU BAGI ELITE POLITIK

Tinggal empat bulan lagi Indonesia akan mengadakan pemilihan umum. Banyak yang mengatakan bahwa pemilu adalah pesta demokrasi di Negara yang tengah mengalami kemunduran secara mental ini. Sebuah pesta yang tidak menghabiskan dana sedikit, sebuah pesta lima tahunan sebagai wahana merebut tampuk kekuasaan, sebuah pesta dari rakyat (uangnya) dan untuk rakyat (penderitaanya).
Biarlah saya meniai pemilu itu dari satu sisi saja, seperti pernyataan-pernyataan saya yang saya ungkapkan di atas. Yang pasti tulisan ini saya buat dan saya bangun bukan untuk meracuni pikiran teman-teman semua, melainkan hanya untuk menumbuhkan pikiran peka dan kritis namun bertanggung jawab (semoga).
Para elite politik memegang peranan besar dalam kinerja sebuah partai yang di pimpinnya atau yang ”di bimbingnya”. Peranan tersebut di aplikasikan dalam bentuk materi dan non materi. Materi seperti uang untuk keperluan kampanye, iklan di media cetak maupun elektronik, dan untuk membeli suara ( semoga tidak terjadi lagi ). Adapun non materi, para elite mencoba untuk membuat pencitraan partai ataupun dirinya sendiri terlihat baik, berkompeten, dan berkapabilitas sehingga rakyat akan menjadi bagian dari mereka.
Contohnya saja menjelang pemilu yang di laksanakan pada bulan April 2009 nanti, banyak para elite politik dari sekarang yang tengah berusaha membangun citra dirinya dan partainya melalui media ataupun lewat keputusan-keputusan yang ( katanya ) bersifat pro rakyat. Misal, beberapa waktu lalu pemerintah (elite politik) menurunkan harga minyak sebesar Rp 500. Rakyat menjadi gembira mendengar hal ini, tapi kenyataanya keputusan itu malah mempersulit rakyat untuk mendapatkan premium di stasiun-stasiun pengisian. Hal ini di akibatkan oleh beberapa hal, yaitu :
1.Jeda antara waktu permintaan pasokan dan pengiriman mengakibatkan kelangkaan di beberapa tempat.
2.Pengusaha-pengusaha SPBU menunda pengambilan premium menjelang penurunan harga.
3.Tidak adanya komunikasi yang jelas antara pengusaha SPBU dengan pemerintah.

Terlepas dari itu, banyak yang mengatakan bahwa keputusan pemerintah sangat tepat dan bijaksana untuk menurunkan harga premium. Pertanyaanya, kenapa baru sekarang diturunkan?? Padahal harga minyak dunia sudah turun sejak dua bulan yang lalu. Malaysia saja sudah menurunkan harga minyak sebanyak lima kali. Saya menilai, ada muatan politis yang besar di sini. Pemilu tinggal beberapa bulan ke depan, untuk menanamkan imej bagi rakyat bahwa pemerintah pada saat ini pro rakyat, maka keputusan penurunan harga BBM baru sekarang terlaksana. Selain itu, popularitas SBY yang cenderung menurun dibandingkan calon-calon Presiden yamh independence seperti Fachroel ataupun Sultan Hamengkubuwono X menjadi pertimbangan tersendiri. Tapi, semoga perkiraan saya itu salah!
Contoh yang kedua, adalah soal pendidikan. Baru kemarin saya melihat berita di televisi bahwa pada tahun 2009 pemerintah menetapkan pendidikan gratis di tingkat SD dan SMP. Bagi anda yang ingat, SBY pada kampanyenya tahun 2004 yang lalu pernah mengatakan bahwa bila ia terpilih menjadi presiden, maka pendidikan akan gratis. Pertanyaanya (lagi), kenapa baru sekarang terealisasikan dan kenapa pada tahun 2009? Apakah mungkin analoginya seperti ini. Tahun 2009 kita melaksanakan pemilu, sedangkan pada tahun 2009 pendidikan kita gratis. Secara halus, keputusan itu ingin meyakinkan rakyat bahwa pilih saja SBY dan kawan-kawan menjalankan pemerintahan lagi, supaya gratis. Dan tidak ada jaminan apakah bila memilih orang lain, keputusan itu akan berlanjut atau tidak. Seperti yang kita ketahui bersama, ganti pemerintahan, ganti keputusan.
Lain lagi dengan elite-elite politik yang belum duduk di pemerintahan. Partai-partai besar, sedang, maupun kecil yang di bimbimg dan di pimpinnya semakin dekat ke pemilu semakin gencar pula memberikan sembako, pelatihan, atau memberikan hal-hal yang bisa membuat rakyat gembira, dengan tujuan agar rakyat memilih partai mereka dalam pemilu nanti. Alasanya sih sederhana, mereka bilang ” rakyat sudah sering menderita, kalau tidak kita siapa lagi yang peduli”, ucap mereka.
Tapi, kenapa harus menjelang pemilu??? Kenapa tidak sedari dulu kalau ingin membantu rakyat?? Aneh bukan..
Tidak bisa di pungkiri, pemilu menjadi daya magis yang sangat besar untuk siapa pun yang punya uang untuk dapat duduk di pemerintahan. Rakyat pun hanya menjadi korban langkah-langkah mereka dalam menuju kekuasaan. Tapi sekali lagi saya tegaskan, RAKYAT TIDAK BODOH!!! Rakyat tahu apa yang baik bagi mereka sendiri, mungkin hal ini yang mengakibatkan banyak golput dimana-mana.

Minggu, 23 November 2008

7 PERTANYAAN DARI SEMUT

7 PERTANYAAN DARI SEMUT


1.Benarkah CIA terlibat dalam usaha melengserkan Presiden Soekarno?
2.Ideologi komunis yang digotong oleh PKI berhasil menghabisi tujuh Jenderal dalam sekejap,dan di cap sebagai sebuah kesalahan dan pemberontakan yang membahayakan serta tak berprikemanusiaan.Protes dimana-mana.Ideologi Pancasila yang di gusung oleh pemerintah pada zaman itu,menghabisi ribuan nyawa anggota PKI ( Tua,muda,anak-anak dll ) di Bali.Tidak mendapatkan respons apa-apa dan di anggap bersih.Patut di benarkan kah hal itu?
3.Benarkah Bung Karno menanda tangani SUPERSEMAR secara terpaksa?
4.Munir adalah seorang aktivis HAM paling TOP di dunia.Pada awal tahun 2002-2003 Munir mendukung Amien Rais sebagai presiden pada Pemilu 2004.Namun pada tahun 2004,Munir berhasil di bunuh.Mengapa Munir di bunuh?
5.Apakah GAM dan OPM itu benar-benar ada dan bukan hasil rekayasa dari petinggi-petinggi militan?
6.Mengapa pembangunan hanya terkonsentrasi pada beberapa kota besar saja,seperti Jakarta.Sedangkan pembangunan di Papua tersendat sama sekali?
7.Gus Dur merupakan Presiden yang paling singkat dalam menjabat sebagai Presiden.Kenapa Gus Dur dilengserkan??Apakah karena Gus Dur tidak mendukung 100 % pihak militer?
8.Di Indonesia,secara teritorial merupakan negara yang memiliki pemeluk islam paling bayak di dunia.Namun kenyataanya Indonesia pernah memiliki Presiden perempuan yang secara islam tidak diperbolehkan bila seorang wanita menjadi pemimpin.Apakah agama sudah menjadi tuhan di Indonesia sehingga banyak kontroversi soal itu yang mengatasnamakan agama?atau saat ini agama di Indonesia sudah mengalami evolusi,bukan Agama Islam lagi namun menjadi Agama Politik???
9.Memasuki awal reformasi,banyak kalangan masyarakat baik itu individu sosial maupun kelompok yang selalu mengatasnamakan agama di semua kegiatan dan mereka merasa paling tahu dengan kondisi permasalahan yang terjadi atas dasar agama dan Al Qur’an.Apakah agama dan kitab suci akan menjadi tuhan selanjutnya?